Postingan Populer

Translate

“Itu karena sayang… Papa!”

Setiap kali saya ingat kata-kata ini: “Itu karena sayang… Papa!”, saya tertawa geli dalam hati. Ini kata-kata yang keluar dari mulut anak perempuanku. Saya dikaruniakan 4 orang anak; 3 laki-laki dan yang paling kecil perempuan. Memang kehadiran anak perempuan kami ini sangat dinantikan, kehadirannya menambah kebahagiaan kami, dan sekarang ia telah berusia 12 tahun.

Ia bertumbuh menjadi seorang anak perempuan yang manja, karena baik kami sadari maupun tidak, ia memang mendapat perhatian “istimewa”. Tapi terutama dari Papanya. Kalau saya lebih cenderung punya pola didik yang tegas, disiplin, sehingga adakalanya pola didik kami orangtua tampak sangat berbeda, bahkan kadang jadi bahan pertengkaran.

Suami sesungguhnya memiliki karakter yang penuh kasih, perhatian, melindungi, dan sangat bertanggungjawab, dan hal itu begitu ia curahkan kepada anak perempuan kami. Sementara saya sejujurnya adalah seorang yang egois, perfeksionis, dan hal inilah yang membuat saya tidak hanya suka ngomel tapi juga marah kalau segala sesuatu terjadi tidak sesuai yang saya inginkan. Hal inilah juga yang membuat saya dan anak perempuan saya “suka bertengkar”. Bisa setiap hari sepanjang hari saya ngomel, marah, dan anak perempuanku membantah, menjawab, marah. Kami bisa sangat ribut setiap hari sepanjang hari.

Beberapa hari yang lalu, kami; saya dan anak perempuanku janjian mau pergi ke suatu tempat, dan kami minta untuk diantar oleh suamiku. Mulai dari lantai 3 sampai turun ke lantai 1 kami berdua ribut. Mungkin karena bingung atau kesal melihat kelakukan kami berdua, tiba-tiba suamiku bertanya: “Kenapa kalian berdua ini selalu bertengkar?” Dan ini yang membuatku kaget dan geli karena spontan anak perempuanku menjawab: “Itu karena sayang… Papa!”. Hahahahah… saya sempat tertawa mendengar jawabannya dan berkata: “Benar itu”… hahahaha.

Kamipun diantar ke tempat yang kami tuju, kami berjalan berdua, makan berdua, beli beberapa camilan dan cari tempat duduk, berdua kami sembari menikmati camilan, kami ngobrol. Anakku menceritakan kegiatannya di sekolah, teman-temannya, bertanya, dll. Sementara saya mendengar, dan mencoba menjawab setiap pertanyaannya dan tidak lupa setiap kali ada momen seperti ini saya selalu pakai untuk mengajarkan nilai-nilai kebenaran yang didasarkan kepada firman Tuhan. Tentang mengasihi sesama, tentang mengampuni, tentang tidak boleh menghakimi orang, tentang meresponi orang yang berbuat jahat kepada kita, tentang nilai dirinya. Saya selalu katakan bahwa dia cantik, bentuk mata, hidung, mukanya, tubuhnya sudah Tuhan buat sesuai seperti itu, dan itu pas tidak kurang, dan masih banyak pengajaran yang selalu saya perkatakan saat-saat seperti itu. Bahkan saat malam menjelang tidur hal itupun salah lakukan. Saat dia sedang di sekolah, saya bahkan suka mengirimi dia chat WA yang berisi kata-kata semangat supaya dia semangat dan tidak lupa selalu mendoakan guru-gurunya, dan semua teman-temannya.

Sampai saat ini sebenarnya saya masih bertanya-tanya kok bisa kata-kata  “Itu karena sayang … Papa!” keluar dari mulut anak saya bahkan pada saat “pertengkaran sengit” terjadi di antara kami…hahahahah.

Saya bingung, bagian mana dari pengajaran saya yang dia terima yang membuat dia bisa berkata seperti itu, karena waktu itu saya sedang benar-benar marah sama dia…. Saya coba mengingat-ingat: “Apa karena saya pernah bertanya kepada dia?”, “Dek, tahu tidak kenapa Mama suka ngomel dan marah-marah sama Dedek?’. Dia tentu menjawab: “Tidak tahu Ma?. “Itu karena Mama sayang sama Dedek”. Mungkin itu bagian percakapan yang membuat anak perempuanku mengatakan hal tersebut. Atau mungkin juga karena saya sering mengatakan: “I love Dek”, “Tuhan memberkatimu ya Dek”, “pintar kau Dek, hebat kau Dek, apalagi kalau Dedek rajin berdoa, rajin belajar pasti tambah pintar”, dll.

Hmmmm… pokoknya masih tertawa geli saya setiap kali mengingat kalimat itu. 

Perempuan-perempuan bijak, hidup saya tidak selalu mudah, saya mengalami banyak sukacita tapi banyak juga dukacita, stres, masalah, dan berbagai macam tantangan dalam hidup. Masalah dengan suami, dengan anak-anak, dengan diri sendiri, dengan orang-orang disekitar. Tapi di dalam semuanya saya jadi banyak belajar, sampai saat ini saya ada di tahap dimana saya puas dengan diri saya dan hidup serta apa yang terjadi dalam hidup saya. Saya jalani dengan ucapan syukur tiada henti kepada Tuhan. Saya bukannya telah sempurna tapi saya terbuka untuk terus diperbaiki, diperindah justru melalui semua yang baik maupun yang tidak baik dalam hidup. Saya bahkan tidak mau menghakimi diri sendiri karena saya tahu Tuhan saja sangat mengasihi saya dan saya tidak mau mengijinkan hidup saya dihakimi dan dinilai orang lain dengan jahat. Jadinya, hidup saya sekarang saya rasa sangat menyenangkan, kendati ada juga kelemahan fisik-sakit penyakit yang harus saya “nikmati”.

Perempuan-perempuan bijak, saya harap hal yang lebih luar biasa kalian alami dalam hidup. Nikmati hidupmu dalam syukur kepada Tuhan, jangan biarkan penilaian buruk menjadi kendali hidupmu, bebaskan dirimu dari tuntutan siapapun, hiduplah dengan merdeka. Suami, anak-anakmu, orang-orang yang mengasihimu, nikmati hidup bahagiamu dengan mereka.

πŸ™πŸ˜‡πŸ’›

0 comments:

Posting Komentar

Postingan Unggulan

Cerita Sedih Seorang Perempuan